Salam. Saya adalah Bupati Kabupaten Pati untuk periode kedua. Maaf,saya lupa periode ini dari tahun berapa ke tahun berapa. Ini nggak penting buat saya, toh nanti kalau sudah saatnya di adakan Pilkadal Bupati akan terasa sendiri suasananya dan sayapun pasti merasa jika saya sudah akan diganti atau (mungkin) terpilih lagi dan lagi. Toh hal itu kan masih lama. Ndak Perlu saya memikirkan hal itu sekarang.
Lagipula daya ingat saya saat ini sedang melemah seiring santernya demo dan permasalahan yang mendera kantor saya di Jl. Tombonegoro Nomer 1 itu. Warga saya baik di Pati Utara maupun Pati Selatan saat ini sedang ramai membicarakan permasalahannya masing-masing, baik yang bertopik semen maupun SK saya yang mengangkat kembali seorang Kepala Desa tepatnya Desa Kurantil yang menurut mereka cacat hukum itu.
Mengenai SK saya yang cacat hukum tersebut sampai saat inipun saya belum pernah membacanya, apalagi meninjau ulang. Sebab SK tersebut sudah ada template-nya, sehingga ajudan saya tinggal mengganti nomer SK dan Nama orang penerima SK tersebut. Saya yakin template SK tersebut sudah benar karena itu kan SK buatan Bupati sebelumnya dan sebelumnya. Lagipula kan saya ndak begitu paham mengenai bahasa hukum, meskipun saya bergelar Sarjana Hukum. Sudahlah, gelar itu ndak usah dibahas. Saya hanya ingin warga saya bangga punya Bupati bergelar Sarjana Hukum. Mulia kan, membuat warganya bangga?
Sebenarnya saya sangat menyesal pernah menjanjikan perpanjangan SK kepada beberapa Kepala Desa yang saat Pilkadal itu menjanjikan saya menang dalam perhelatan tersebut. Tapi penyesalan kan selalu datang di akhir masalah.
Ya sebetulnya bukan penyesalan yang harus saya rasakan, tapi lebih karena kurang pahamnya saya akan dampak yang ternyata muncul dikemudian hari. Saya ndak tahu kalau ternyata ada corp BPD yang sangat menentukan diterima atau tidaknya SPJ Kades juga mengenai masa jabatan Kades. Sungguh, saya ndak tahu.
Menyesal menjadi Bupati? Tentu tidak!! Saya bangga pernah menjadi Calon Bupati Termiskin di Indonesia. Saat saya diajukan menjadi Calon Bupati,(seingat saya)saya hanya mempunyai kekayaan sekitar 105 juta rupiah. Pendidikan saya saat itu juga hanya SMA. Istri saya juga demikian. Malah ketika sudah menjabat Bupati saya pernah dibisiki oleh ajudan saya bahwa istri saya disebuah pertemuan PKK pernah membaca teks pidato dengan sangat jujur dan lugas. Seperti ketika membaca teks, “… Bapak2, Ibu2…..”, istri saya membacanya,”… Bapak Dua, Ibu Dua….”, konon katanya itu singkatan dari,”…Bapak-Bapak, Ibu-Ibu…” Sudahlah, itu ndak usah dibahas…
Kembali mengenai SK. Saat ini saya menjadi semakin bingung harus berbuat apa. Saya terlanjur menjanjikan perpanjangan SK kepada Kades yang saat itu juga menjanjikan saya pasti terpilih lagi menjadi Bupati Pasti periode kedua.
Ajudan saya sering berbisik begini,” Sudahlah, Pak. Ndak perlu dirisaukan. Itu kan hal biasa. Bapak harus kuat. Toh, seandainya nanti mereka mem-PTUN-kan Bapak, Bapak kan bisa saja menggunakan pengacara handal untuk memenangkan Bapak. Lagipula tabungan Bapak saat ini kan juga bisa dipakai untuk undertable money buat Majelis Hakim jika diperlukan dan jika mereka benar-benar menuntut Bapak di PTUN. Betul kan, Pak? Sudahlah, Pak. Santai saja. Yang penting bagaimana sekarang kita bisa mendapatkan Adipura, konsentrasi untuk hal itu kan perlu. Coba bapak lihat disudut-sudut jalan Kota kita sekarang sudah dibersihkan, dicat ulang, diberi pot-pot bunga dengan berbagai macam tanaman hias. Pokoknya tahun ini Adipura harus mampir ketempat kita. setidaknya kan Bapak akan bangga kalau kabupaten Pasti mendapatkan Adipura disaat kepemimpinan Bapak.”
Demikian tadi bisikan seorang ajudan saya. Benar juga apa yang dia katakan.
Melalui blog ini, saya berharap teman-teman ikut memberi saran buat saya. Termasuk jika teman-teman ingin mengirim caci maki atau kritikan buat saya. Agar saya tidak gegabah dalam mengambil keputusan di kemudian hari.
Satu hal yang perlu teman-teman ketahui, saya mengetik sendiri Curhatan ini. Bukan oleh ajudan saya. Sungguh.
Terimakasih.
Hormat Saya
Tasiman, SH
Bupati Pati
& Komentar
24 Maret 2008 pukul 11:53
Ini bupati Pati tenan po ora sih? Aku masih sedulur jauh lho sama Lik Tasiman. Apa ini benar-benar sampeyan Lik?
25 Maret 2008 pukul 10:10
selamat sianq pak bupati…
entah ini pak tasiman beneran ato qa.tpi saya ad sedikit saran buat bapak.sekaranq bapak telah terpilih kembali jadi bupati periode ke dua.itu tandanya bapak masih di senanqi masyarakat bayak.apapun keputusan bapak itu saya anqqap yanq terbaik.tapi perlu di inqat untuk membuat keputusan janqan sampai menqorbankan warqa pati.
janji adalah hutanq pak tasiman…..
dari pada bapak kemakan janji.lebih baik di kabulkan.apapun resikonya…. saya yakin oranq yanq qa setuju denqan keputusan bapak adalah oranq yanq iri denqan kedudukan bapak sekaranq ini.ya seperti inilah polotik. qa tau teman dan qa tau lawan………!!!!!
sebelumnya saya minta maaf klu komentar ini salah.krana saya sadar hanyalah oranq biasa yanq qa tau apa2
3 April 2008 pukul 14:05
saya bangga ada pejabat nulis blog. sebenarnya di LN udah banyak tapi di indonesia bisa diitung jari.
saran saja pak, nanti kalau udah ga jadi bupati, tetep nulis di blog ya….
1 September 2008 pukul 13:55
wah ini beneran ga ya yg nulis bupati pati sendiri???ini adalah pertanyaan besar saya..tapi perlu di acungi 4 jempol dengan strategi anda dan mungkin banyak orang di belakang anda yang membuat blog ini untuk membangun image seorang pemimpin yang tampak bijaksana dalam mensikapi berbagai kritik serta mencoba memperlihatkan bahwa anda pemimpin yang bersih!!!!betulkah anda pemimpin yang bersih??bagaimana dengan penetapan anda sebagai tersangka dalam kasus korupsi APBD 2002/2003. Saya kira aparat hukum tidak akan menetapkan anda sebagai tersangka kalau tidak ada bukti yang cukup…
9 Januari 2009 pukul 12:27
sumpah wani rak? ga mungkin ini bupati dewe sing nulis. jare ga pernah menjanjikan perpanjangan, kok disini ngaku. ga mungkin banget. coba ta konfirm lagi ma bupatine.bnr ga gawe blog pengakuan dosa ini ?
6 Februari 2009 pukul 23:32
iya mbak dian!!!
q jg gak percaya ne yg bwt pak tasiman!!!!!
99% q ragu!!!!
ragu sangat pokokmen!!!!!!
pak budidayakan pemerintahan pati yg bersih!!!!
jgn bohongi rakyat kecil!!
mentang2 qt bagaikan rakyat goblok yg gak taw apa2!bs dbo’ongi kpn ja!!! n pa ja!!!!!
“AYO RAKYAT PATI KITA BERSIHKAN PATI!!!”
koyo pak narwi kui lho jujur!!!
8 Mei 2009 pukul 12:09
Pak Bupati yang Terhormat..
Sy, seorang rakyat jelata, cuma dokter di kota kecamatan kecil, Kec Lawang, Kab. Malang – Jawa Timur. Sy kenal Pati karena kakak kandung saya peg Dolog Pati.
Namun, Sy terkesan dengan Pati bukan karena Nasi Gandul nya, atau ada saudara di Pati, tapi krn saat ini saya menunggu proses pengaduan di kepolisian atas delik aduan penggelapan mobil.
Astaghfirullah…..uang habis dan habis-habisan, niat baik membantu dan mendukung, ternyata berbuah malapetakan. Semoga Allah mengampuni dosa-2 kami, dan memberi kesehatan dan nikmat lebih kpd mereka yang lupa agar segera ingat.
Pangkal tolak permasalahan adalah pada Mobil Kijang Pick-up yang didapat dari leasing BFI Malang, untuk sumbangan ke DPC PDIP pada Pemilu legeslatif 2004, di Pati, dengan Penyumbang adalah Mister Hasanuddin Yusuf, mantan calon anggota legeslatif DPR Pusat dari PDIP, Dapil Pati tahun 2004, yang saat ini jadi Ketua Umum PPI, dan mantan Ketum DPP KNPI.
Berbagai latar belakang kisah awal mula sampai kenapa jadi runyam dan begini sudah kami sampaikan, bukti-bukti sudah diberikan, dan komunikasi juga sudah dijalin walau dalam pandangan kami tidak mendapat tanggapan responsif dr Pak Bupati–mungkin krn dianggap masalah kecil, komunikasi langsung suami sy dengan Pak Sawijan juga sudah dijalin, kontak pihak BFI Malang dan pihak pak Bupati juga sdh kami coba sambungkan, namun hasilnya adalah TIDAK ADA PENYELESAIAN.
Pak Tasiman, yth.. jujur sy tidak melihat mobil tsb, apalagi memakainya, sy semata krn dipinjam nama oleh suami yang “ditangisi” teman nya, Pak Hasanuddin Yusuf, yang konon orang yg sangat bertanggung jawab, untuk meleasingkan mobil kijang tsb, angsuran akan dibayar penuh tiap bulannya oleh Pak Hasanuddin. Namun ternyata sampai pd bulan ke-11 (sebelas) suami sy yang menanggung,karena tidak ada komunikasi, tidak ada kejelasan, dan tidak ada komitmen dari Pak Hasanuddin Yusuf, maka angsuran kami hentikan. Setelah itu baru ada komunikasi dengan Pak Hasan, dan pak Hasan menyatakan tidak sanggup untuk mengangsur, dan mempersilahkan unit diambil di Pati, dipakai Satgas PDIP, DPC PDIP Pati.
Atas putusan tsb, suami sy menugaskan teman–Bpk Suhardi, SE– yang kebetulan dulunya menyerahkan unit mobil tsb ke Pati, ke rumah Bapak Sawijan dengan tanda terima ditanda tangani Ibu Sawijan, mendampingi pihak BFI Malang ke Pati, dan ternyata TIDAK MENDAPAT TANGGAPAN dari Pak Bupati dan atau staf.
Suami saya, WIdagdo, juga sudah ke Pati, bertemu dengan Bpk Sawijan, dan alhamdulillah mendapat tanggapan responsif, namun sangat disayangkan, ternyata juga tdk ada penyelesaian.
Akhirnya, beberapa minggu lalu, kami kedatangan tamu dari BFI Surabaya, yang intinya, karena tidak ada penyelesaian, maka masalah akan diproses secara hukum.
Pak Bupati, sy hanya ibu rumah tangga biasa, berprofesi sebagai dokter, keterlibatan sy dengan pak hasan semata krn hubungan pertemanan suami dengan pak hasan, sama sekali sy tdk berkeinginan lebih.
Apabila krn masalah ini sy harus terseret ya sy kembalikan lagi semua pd kekuasaan Allah SWT. Yang Maha Adil, dan Maha Kaya.
Makaten Pak… Selamat menjalankan tugas, arif dan bijaksana, semoga sukses.
Wulandarti Wien — 081 334620297, 087859169167
Suhardi, SE — 081333455506